Tentang penulis
A cup of coffee or a cup of tea?
Jika di hadapkan dengan pilihan yang sulit di mana keduanya adalah "kegemaranmu" lalu kamu harus berhenti sejenak sekiranya beberapa detik hingga menit untuk segera memutuskannya. Saya seorang Libra ♎ berfikir rasionalis serta banyak pertimbangan yang saya ambil baik untuk jangka pendek ataupun panjang, ya sama hal nya ketika saya membuat blog lagi saat ini, setelah trauma menerjang saya di awal tahun 2017. Ketika saya #flashback dan melihat cerita dahulu kala kemudian menemukan banyak peluh suka duka yang saya tumpahkan di dalam blog maupun diary pribadi saya. Trauma. itu satu kata yang bisa saya ungkapkan. Trauma, mengapa? trauma ketika saya pernah sangat alay, pernah caper, pernah sangat kekanak-kanakan saya trauma itu menyelimuti diri saya kembali ketika saya memulai nulis karena setiap saya menulis tentang apapun itu imajinasi saya ikut bermain lincah layaknya jemari saya saat mengetik cerita yang sudah saya rangkai. Ya meskipun semua orang pasti melewati masa itu sih.. dan jika saya me- review berbagai cerita sejak saya SD hingga SMA itu membuat saya seperti di ajak jalan ke masa-masa bodoh dan kepolosan saya saat itu, saking bodohnya sampai saya lupa apa password dan e-mail jaman dahulu itu, saya lupa hingga hari ini saya Trauma, usaha yang saya lakukan adalah menghubungi teman-teman IT untuk menutupi tulisan saya jaman dahulu, itu susah nya.. tetap tidak bisa.. ah sudahlah namanya juga peralihan masa kanak-kanak ke masa remaja, dan tolong maklumi ya hehe.
Sekarang menginjak umur 22 tahun ya sekiranya sudah mulai dewasa dalam menentukan setiap pilihan dalam hidup saya. Pilihan yang saya ambil pun bermacam-macam mulai dari agama, pendidikan, karir, pertemanan, hingga percintaan. Tentunya saya seorang Moslem yang haus akan ilmu agama, in the fact saya orangnya sangat curious, apapun saya cari kebenarannya, dampaknya dan menerapkannya jika itu adalah benar. Hidup di dunia itu sementara, ketika saya sedang benar-benar sadar jika saya hanya berlomba di panggung sandiwara atau bisa kita namakan "dunia adalah panggung, dan akhirat adalah penentuan kamu tinggal di mana sebenarnya", saya merasa tidak aman di mana pun saya berada, di Negara apa, Provinsi apa, Kota, Desa, dimana pun itu terasa tidak aman, kecuali saya benar-benar pasrah akan takdir Allah kapan saya di panggil. Intinya rasa penasaran saya terjawab ketika saya tidak hanya beragama, tetapi juga melaksanakan ajarannya, serta punya pengetahuan atau ilmu di dalamnya. Telat? ah saya rasa tidak ada kata telat untuk belajar. Sempat dulu ketika saya SD selalu mendapat ranking satu ini kebanggaan tersendiri untuk saya juga orang di sekitar saya dan saya punya plan untuk SMP, saya harus bisa selalu mendapat ranking satu seperti dulu, meski pada kenyataanya saya hanya mendapat ranking dua dan tiga. Selepas dari situ saya semakin belajar untuk melanjutkan ke SMA negeri sama seperti SD dan SMP negeri. Tekad saya selalu bulat selalu ingin perfeksionis (meski ga boleh begini-begini banget) tapi memang bawaan kali ya karena kemandirian dan pola pikir saya yang dipaksa untuk satu langkah lebih dewasa dibanding anak seusia saya pada saat itu. Sekolah saya pindah-pindah seperti yang gampang move-on di karenakan mengikuti alur cerita orang tua saya. SMA keterima di negeri ( tiga sekolah yang menerima saya salah satunya SMAN 5 Karawang, sisanya di Jakarta seperti 71 & SMK 48 hanya tinggal menunggu semester depannya) karena pertimbangan ini itu baik dari diri sendiri maupun orang tua saya harus memilih secepat mungkin sementara harus di swasta, karena harapan saya bisa masuk di semester berikutnya, tapi itu hanya rencana karena pada faktanya saya nyaman sekolah di Swasta pada saat itu, bukan karena sekolahnya tapi karena lingkungannya dan mungkin saya sudah lelah menjadi anak baru, hehe. toh di situ saya masuk IPA dan dapat ranking juga kalo bukan dua ya tiga masih sama seperti SMP, syukurnya.. karena jujur saja semakin kesini semakin sulit dan ketat.
Meski masuk Ipa(2011), jujur saya tidak begitu suka pelajaran hitung-hitungan, back to your passion dong seharusnya tapi saya tetap bertahan karena saya tidak mau mengulang dari awal ibaratnya tanggung. Hingga hari ini saya menulis saya sudah menjadi Sarjana muda yang gelarnya S.Sos hehe lucu kan. Pergejolakan masalah pendidikan saya tidak berhenti sampai SMA saja, di saat memilih kampus pun begitu. Saya fikir saya bisa perfect di pendidikan S1 saya kelak, tapi balik lagi ke takdir Allah berkata lain saya harus pontang-panting ikut pendaftaran sana sini agar bisa masuk Universitas impian dengan minimum payment bahasa lainnya scollaship, saya selalu mengincar negeri pasti kalian pun sama seperti saya, ingin adanya pengakuan dari dunia ini baik dari pekerjaan kelak, sosial, keluarga, dsb. Mengikuti PMDK (dulu sih sebutannya gitu), dapat surat undangan dari univ negeri di Jogja tapi telat ga di ambil, saya ikuti alurnya, sampai saya hampir lelah karena semua serba memerlukan uang yang tidak sedikit, saya menarik nafas dalam-dalam seraya mengernyitkan dahi dan berkata dalam hati "oh God! bagaimana ini, pilihan seperti apa ini, saya mau jadi apa kelak jika saya berada di tengah-tengah dilema seperti ini?". JOGJA,BANDUNG,CIKARANG,JAKARTA, sampai JEPANG saya ikutin pendaftarannya dulu namanya monbukagakusho scholarships. Tidak lolos ke Jepang, nilai saya kurang padahal tidak ada nilai merah nya, rata-rata 8 dan 9, tapi ketika saya melihat di pengumuman website saat itu nilai yang masuk adalah rata-rata di angka 9 semua, berasal dari sekolah-sekolah di desa. Beruntung banget fikir saya. Akhirnya saya ikut simak UI, SMUP UNPAD, dan saya tidak menutup mata untuk mencoba scollarship di Swasta seperti di PU/UPS. Lagi-lagi karena biaya yang menjulang tinggi di negeri, saya sadar tidak ingin merepotkan keluarga, Kuliah saya di Bandung pun yang sudah berjalan sampai masuk awal semester harus saya hentikan bukan hanya karena Cost tapi ada hal lain yang privacy hehe. Akhirnya saya mencari tempat kuliah yang berakreditasi A untuk jurusan HI. Saya fikir dimanapun saya berkuliah saya mendapatkan ilmu yang sama hanya pengakuan saat mencari kerja,fasilitas dan kebanggaan nya saja yang berbeda. But, semua itu balik lagi kedalam diri kita sendiri dalam memperjuangkan yang kita inginkan dengan tekad, usaha, juga doa. Jika Allah berkehendak iya, maka jadi dan jika tidak, tenang suatu saat pasti ada penggantinya. Hari ini saat saya menulis juga ada keinginan di lubuk hati saya untuk melanjutkan S2 Psikologi Sains kalo kesampean itu juga. hiks, sembari kerja boljug ya.hehe Insha Allah kalo ada rejeki dan waktu yang pas. Oh iya bekal yang saya bawa dari perkuliahan selain Akademik, ada juga organisasi baik di dalam maupun di luar seperti Himpunan mahasiswa HI, Forum kajian radio, televisi, dan Film, Hijaby, Hijab Hunt Depok 3, Mouth Flow Buzzers, kalo SMA kan OSIS, theater dan cheerleaders (bikin blog sembari ngintip CV, haha.)
Say about Career?
"Nak kamu kalo sudah besar mau jadi apa?" "dokter.. hmm pembalap mungkin, atau pilot hehe." Jawaban saya ketika masih SD. Nah, kira-kira apa kalian bisa tebak jadi apakah saya sampai hari ini? Saya masih menjadi karyawati biasa di umur dua puluh dua ini, tapi alhamdulillah bekerja untuk NGO, Organisasi Internasional yang bergerak dalam penyelamatan lingkungan hidup sesuai jurusan saya HI ada-lah nyeleneh dulu di sini. Memang sebelumnya saya pernah bekerja menjadi Barista, Asisten designer, Host, Tour Guide/ Leader, Personal Assistant bu Poppy A (motivator & psikolog), dan satu lagi saya pernah merasakan menjadi sales promotion girl loh hehe, tapi bukan menjual rokok, karena saya ingin memperlihatkan skill saya menjual produk dengan pakaian yang sopan, tetap ramah, dan mengajak orang untuk mencoba produk yang baik dari saya itu adalah suatu penghargaan. Itu sebenernya iseng-iseng semester empat dulu kerja di kala musim liburan. Saya promosi di Pure Baby dan Gold France merangkap jadi Host di Balai Kartini, Jakarta sembari saya coba jadi entrepreneur ala-ala menjual Sandwich, dan sempat buka lapak di online namanya Kiwsid menjual dan mendesign baju handmade "by us" bersama sahabat baik saya. Bagi kalian yang pernah merasakan di posisi ini, pasti kalian mengerti apa lah arti cari uang yang sebenarnya. Saya tidak pernah malu untuk bekerja apapun selagi itu halal, saya mampu, dan saya sungguh-sungguh. Justru kebanggaan karena dikala yang lain masih bermain dengan yang itu-itu saja kita sudah bisa menghasilkan uang sendiri pada saat itu. muehehe. Now, what? Sekarang saya sedang menjalankan atau mencoba fokus sih intinya di bidang yang sama entrepreneurship sembari bekerja kantoran. (eh kebalik ya? kerja sambil usaha maksudnya, dan ini juga baru mau mulai lagi). Mungkin kedepannya saya bisa lebih baik bahkan lebih baik lagi, amin. semoga kamu yang baca juga ya. AMIN.
#MARID, itu nama geng gong waktu SMA. Saya dan ke-empat teman saya menjuluki pertemanan kita dengan sebutan itu. Hingga hari ini "we are still counting" >7thn. Alhamdulillah. Jadi setiap pertemuan kita sejak dulu hingga seterusnya di karenakan tiga hal;
- ARISAN
- ULTAH
- NIKAH
YAAA, sampai saat ini baru point pertama dan kedua yang telah bahkan selalu kita lewati bersama-sama. Nikah? Insha Allah lah kita semua nikah pada waktunya, hahai. Ke-empat sahabat saya ini sudah punya calon masing-masing dan selalu dibawa saat pertemuan sakral kita, kecuali saya entah mengapa hanya saya yang masih berpegang teguh jika belom pasti sama si misal "A" atau "B" atau "C", saya tidak ingin bawa ke teman-teman saya ini, Kapok! Saya tidak mau terkesan labil, padahal memang takdir. Saya tidak mau terkesan playgirl padahal selalu jadi korban. Ah, sudahlah akan ada saatnya itu akan menjadi lengkap, siapa tahu saya duluan yang memberikan bahan/ udangan ke kalian ye ga hehehe. Karena pernikahan itu bukan hanya sehari-dua hari tapi selamanya, jadi tidak boleh merasa terkucilkan karena social pressure, keinginan untuk duluan-duluan. dan... kenapa saya cerita jadi melenceng? ini kan sedang bicara pertemanan ya? haha oke lanjut... Saya tidak hanya berteman dengan mereka saja, karena mereka bukan teman melainkan sahabat saya, tentu saya membedakan mana yang bisa dikatakan teman atau sahabat. Selanjutnya teman-teman terdekat saya di waktu SMP ada empat orang juga, entah kenapa setiap buat Geng isinya berlima dengan saya haha ga disengaja padahal, tapi diantara geng SMP ini ada satu sahabat saya yang bener-bener sudah seperti sodara sendiri. masih #KEEPINTOUCH hingga sekarang. Kemudian di perkuliahan teman-teman sana sini banyak baik di jurusan, luar jurusan, atau di luar kampus, di pekerjaan, anything lah ya tidak bisa di sebutkan satu-persatu yang jelas saya merasa hanya memiliki satu sahabat di masa saya berkuliah, yang lain hanya teman biasa saja saat main, belajar, atau apapun itu baik dalam komunitas belajar di Kampung Inggris, kantor, serta lingkungan rumah. Sedangkan satu sahabat saya ini adalah orang yang jelas-jelas mengerti saya, saya pun mencoba treat dia begitu. Hingga sebentar lagi dia mau tunangan dan segera menikah. Alhamdulillah sudah menemukan pasangan yang sehati dan sejiwa. Pasti nanti saya harus jadi pengawal pengantin nih saat dia nikah, hehe. senangnya. Intinya dalam hubungan pertemanan saya, saya akan selalu baik sama siapapun meski dia sempat jahat; misal. Semakin dewasa semakin kecil circle kita. Maka ada baiknya carilah link sebanyak-banyaknya saat berorganisasi, kuliah, les, komunitas, dsb. Tapi harus pintar-pintar memilih pertemanan jangan sampai terjerumus. So, how about my personality in my circle?
am·bi·vert
noun: ambivert; plural noun: ambiverts
- a person whose personality has a balance of extrovert and introvert features. it's me.AND I'M an ISFP (Introversion, Sensing, Feeling, Perception) is an abbreviation used in the publications of the Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) to refer to one of sixteen personality types. The MBTI assessment was developed from the work of prominent psychiatrist Carl G. Jung in his book Psychological Types.
THE LAST, is love..
Saya tidak bisa berkata apa-apa karena saya tidak pandai memberikan bagian dari tulang rusuk saya kepada laki-laki. Sudah sedikit saya ulas tentang percintaan saya di kolom atas bagian pertemanan. Saya sering di sakiti pasca saya merasa menyakiti. Mungkin ini adalah pembalasan untuk saya, tapi yang saya fahami bahwa memiliki hubungan itu resiko, baik dan buruknya harus siap dijalani. Jadi bagi mereka-mereka yang "in relationship" mereka sangat hebat karena siap patah hati kapan saja dimana saja, sedang apa, dan bagaimana story nya. Saya memang pernah memiliki hubungan yang saya anggap hanya satu diantara sepuluh. Betapa dahsyatnya cerita yang kita miliki bukan ? lalu mengapa harus berpisah? ( eits ini bukan cerita galau dari mantan ya ) melainkan ini me-review hanya sebagai evaluasi diri.
sampai hari ini satu kalimat yang disampaikan seseorang masih tertanam di hati:
"jika dari awal ada orang yang bikin tertekan dan tertarik, ikuti perasaan itu karena dia yang akan membuat kamu merasakan kupu-kupu di perut kamu dan aliran darah yang deras ke jantung kamu".
So many reason. thank you for everything you gave to me. dan Saat ini, saya hanya berdoa diberikan kesabaran agar bisa mendapatkan cerminan saya di hari yang sudah di Ridhoi Allah. cmiwiw!
So, coffee or tea? ;)

Komentar
Posting Komentar